Halaman

Selamat Membaca dan Terimakasih Telah Berkunjung . Datang Lagi DiLain Waktu . Salam Akatsuki :)

Rabu, 18 April 2012

Cerpen :)


TUNGGU ALYA DISURGA
Oleh: Yolanda Marliza
           

        Apa kabar Ayah? Alya masih disini, duduk disamping peristirahatan terakhir Ayah, menunggu Ayah dengan setia. Alya datang ditemani senja dan seikat mawar putih kesukaan Ayah. Alya rindu sekali dengan Ayah. Ayah rindu juga kan dengan Alya dan adik-adik? Alya tahu Ayah selalu menyayangi kami meskipun kini Ayah sudah tidak ada lagi disini.
        Sungguh, sampai saat ini Alya masih belum bisa percaya Ayah telah pergi meninggalkan Alya, Ana dan Abdullah secepat ini. Dulu, Ayah berpesan agar Alya menjadi wanita yang tangguh, wanita yang mampu melawan dunia yang kejam. Namun, itu tak akan mungkin terjadi, semangat Alya yang dulu menggebu-gebu kini telah hancur dimakan ketakutan, apalagi semenjak kepergian Ibu setahun yang lalu, dan Ayah yang menyusul Ibu sebulan  yang lalu. Rasanya hari hitam itu baru kemarin Alya lalui.
        Masih lekat diingatan Alya disaat kami kehilanggan Ayah, Ayah terbujur kaku diatas sofa berwarna biru. Wajah Ayah pucat, bibir Ayah hijau kehitaman. Gelas teh yang  Alya pegang terjatuh dan pecah berkeping-keping sama halnya dengan hati Alya yang tak mampu menerima kenyataan bahwa Ayah telah pergi. Saat itu Alya hanya mampu menyalahkan penyakit kanker hati yang menggerogoti Ayah. Alya hanya bisa menangis dan memanggil-manggil Ayah. Dan seketika Ana dan Abdulah datang menghampiri kita. Mereka bingung apa yang sedang terjadi diantara kita. Air mata menetes dipipi Alya, namun Ayah tetap diam terpaku. Alya tahu jiwa Ayah ada disana dan ikut menangis melihat Alya dan adik-adik. Karena Alya merasakannya Yah, Alya merasakan kehadiran Ayah, tapi Alya tak bisa berbuat apa-apa.
        Alya peluk tubuh Ayah yang dingin, Alya cium wajah Ayah yang datar tanpa ekspresi sedikit pun. Ana menangis melihat kita berpelukan mesra, bibirnya bergetar memanggil Ayah. Terlihat jelas dari raut wajahnya bahwa Ia tak mau kehilangan Ayah dan tak rela kehilangan kasih sayang yang selama ini Ayah berikan. Anak sekecil Ana yang baru berumur 6 tahun sudah mengerti akan arti kematian. Sedangkan Abdullah yang baru berumur 4 tahun hanya menangis. Alya tak tahu apa yang ia pikirkan.
        Untuk kedua kalinya bendera kuning berkibar didepan rumah kita, dan untuk kedua kalinya juga Alya mengantar kepergian orang yang sangat Alya sayangi. Sore gelap. Mayat Ayah dalam keranda telah diangkat. Para pelayat ikut mengiringi prosesi kepergian Ayah. Sedangkan Ana dan Abdullah tidak ikut karena Alya tak mau kesedihan menemani mereka.Setibanya dipemakaman, awan hitam menyelimuti langit yang tengah berkabung. Jasad Ayah perlahan-lahan dimasukkan kedalam liang kubur. Dada Alya sesak menahan tangis. Satu persatu cangkulan tanah menimbun jasad Ayah. Alya tabur mawar putih, Alya elus  batu nisan Ayah, dan Alya pun menangis kembali.
        Tak kuasa diri ini meninggalkan Ayah seorang diri. Teringat kembali masa-masa indah yang telah kita lalui. Disaat Alya terjatuh dan Ayah membasuh luka Alya, disaat Alya, Ana dan Abdullah tak bisa tidur dan Ayah membacakan dongen untuk kami, dan kenangan indah lainnya yang tak bisa Alya lupakan hari ini, esok dan seterusnya. Alya yakin Yah, perpisahan ini hanya sementara, dan akan datang waktu bagi kita untuk bersama kembali. Maafkan Alya, Ana dan Abdullah yang belum bisa menjadi anak terbaik untuk Ayah dan Ibu. Alya berjanji akan menjaga adik-adik dan mencoba menjadi wanita tangguh seperti yang Ayah inginkan. Ayah, Ibu, tunggu Alya dan adik-adik di surga. Yakin dan bersabarlah bahwa kita akan bersama. Semoga Ayah dan Ibu tenang dalam kedamaian dan bergembira bersama para malaikat di surga.

0 komentar:

Posting Komentar

 

This Template Was Found On Elfrida Chania's Blog